|
Mungkin memang demikian
Tuhan menghendakinya.
Selepas SMA, rasa tetap melekat ada.
Walau berjauhan, Qq kuliah di Jakarta, sedang Rizal
melanjutkan belajarnya ke Bandung dan kemudian berangkat ke
Amerika. Komunikasi sesekali dilakukan lewat surat. Isinya
pun tetap percakapan biasa. Walau pernah juga ada pengakuan
“suka waktu SMA”, tak membawa pada keadaan apa-apa. Hidup di
belahan dunia berbeda dengan masing-masing nuansanya.
Namun semua tak lama, karena Tuhan menetapkan segala.
Menunjukkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan selama itu
ternyata hati tidak berdusta, ia bicara lain bahasa, tak bisa
diam katakan suka. Kepala pun tak henti berpikir sama. Qq dan
Rizal mengalami episode tak beda |